Rabu, 24 November 2021 14:23

IMUNISASI PADA MASA PANDEMI COVID-19

Written by
Rate this item
(0 votes)

Pemerintah telah menetapkan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai bencana non-alam. Sejak diumumkannya kasus konfirmasi pertama pada Maret 2020, dalam rentang waktu satu bulan, seluruh provinsi telah melaporkan kasus konfirmasi. Pandemi COVID-

19 memberi tantangan besar dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia dan berdampak terhadap sistem kesehatan Indonesia yang terlihat dari penurunan kinerja pada beberapa  program  kesehatan.  Hal  ini  disebabkan  prioritas  pada  penanggulangan  pandemi COVID-19 serta adanya kekhawatiran masyarakat dan petugas terhadap penularan COVID-19. Di beberapa wilayah, situasi pandemi COVID- 19 bahkan berdampak pada penutupan sementara dan/atau  penundaan  layanan  kesehatan  khususnya  di  posyandu  dan  puskesmas.  Pandemi COVID-19 juga memberi dampak besar bagi perekonomian yaitu: (1) Membuat daya beli masyarakat, yang merupakan penopang perekonomian sebesar 60 persen, jatuh cukup dalam.

Oleh  karena  itu,  perlu  segera  dilakukan  intervensi  tidak  hanya  dari  sisi  penerapan protokol kesehatan namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit, yaitu melalui upaya imunisasi dan vaksinasi. Upaya telah dilakukan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan vaksin yang ideal untuk pencegahan infeksi SARS-CoV-2 dengan berbagai platform yaitu vaksin inaktivasi /inactivated virus vaccines, vaksin virus yang dilemahkan (live attenuated), vaksin vektor virus, vaksin asam nukleat, vaksin seperti virus (virus-like vaccine), dan vaksin subunit protein.

Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat paling efektif dan efisien dalam mencegah  beberapa  penyakit  berbahaya.  Sejarah  telah  mencatat  besarnya  peranan  imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian akibat berbagai penyakit. Dalam imunisasi terdapat konsep Herd Immunity atau Kekebalan Kelompok. Kekebalan Kelompok ini hanya dapat terbentuk apabila cakupan imunisasi pada sasaran tinggi dan merata di seluruh wilayah. Kebalnya sebagian besar sasaran ini secara tidak langsung akan turut  memberikan  perlindungan  bagi  kelompok  usia  lainnya,  sehingga  bila  ada  satu  atau sejumlah kasus Penyakit- penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di masyarakat maka penyakit tersebut tidak akan menyebar dengan cepat dan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah.

Vaksinasi adalah istilah untuk proses pemberian vaksin, baik dengan cara disuntikkan maupun diteteskan ke dalam mulut untuk meningkatkan produksi antibody sehingga tubuh dapat

menangkal penyakit tertentu. Vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk mengurangi transmisi/penularan COVID-19, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19, mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity) dan melindungi masyarakat dari COVID-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi. Kekebalan kelompok hanya dapat terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di seluruh wilayah. Upaya pencegahan melalui pemberian program vaksinasi jika dinilai dari sisi ekonomi, akan jauh lebih hemat biaya, apabila dibandingkan dengan upaya pengobatan

Vaksinasi COVID-19 dilaksanakan dalam 4 tahapan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan profil keamanan vaksin. Kelompok prioritas penerima vaksin adalah penduduk yang berdomisili di Indonesia yang berusia ≥ 18 tahun. Kelompok penduduk berusia di bawah 18 tahun dapat diberikan vaksinasi apabila telah tersedia data keamanan vaksin yang memadai dan persetujuan penggunaan pada masa darurat (emergency use authorization) atau penerbitan nomor izin edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

*Khusus untuk Vaksin Sinovac berdasarkan rekomendasi PAPDI (perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia). Apabila terdapat perkembangan terbaru terkait pemberian pada komorbid untuk Vaksin Sinovac dan/atau untuk jenis vaksin lainnya akan ditentukan kemudian.

Tahapan pelaksanaan vaksinasi COVID 19 dilaksanakan sebagai berikut:

1. Tahap 1 dengan waktu pelaksanaan Januari-April 2021. Sasaran vaksinasi COVID-19 : Tahap  1  adalah  tenaga  kesehatan,  asisten  tenaga  kesehatan,  tenaga  penunjang  serta mahasiswa  yang  sedang  menjalani  pendidikan  profesi  kedokteran  yang  bekerja  pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

2. Tahap  2 dengan  waktu  pelaksanaan  Januari-April  2021 Sasaran  vaksinasi  COVID-19 tahap 2 adalah:

  • Petugas pelayanan publik yaitu Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  • Kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun) .

3. Tahap 3 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi

4. Tahap 4 dengan waktu pelaksanaan April 2021-Maret 2022

Sasaran vaksinasi tahap 4 adalah masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin.

Pentahapan dan penetapan kelompok prioritas penerima vaksin dilakukan dengan memperhatikan Roadmap WHO Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) serta kajian dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).

Prinsip dalam pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yaitu:

   1. Pemberian vaksinasi COVID-19 dilakukan oleh dokter, perawat atau bidan yang memiliki kompetensi.

   2. Pelaksanaan pelayanan vaksinasi COVID-19 tidak menganggu pelayanan imunisasi rutin dan pelayanan kesehatan lainnya

   3. Melakukan  skrining/penapisan  terhadap  status  kesehatan  sasaran  sebelum  dilakukan pemberian vaksinasi;

   4. Menerapkan protokol kesehatan; serta

   5. Mengintegrasikan  dengan  kegiatan  surveilans  COVID-19 terutama  dalam  mendeteksi kasus dan analisa

 

Alur Pelayanan Vaksinasi COVID-19

Mekanisme/alur pelayanan baik di puskesmas, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya maupun pos pelayanan vaksinasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Sumber : PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN VAKSINASI DALAM RANGKA PENANGGULANGAN PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)

Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi

Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi atau biasa disebut KIPI merupakan kejadian medik yang diduga berhubungan dengan vaksinasi. Kejadian ini dapat berupa reaksi vaksin, kesalahan prosedur, koinsiden, reaksi kecemasan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan.

KIPI diklasifikasikan serius apabila kejadian medik akibat setiap dosis vaksinasi yang diberikan menimbulkan kematian, kebutuhan untuk rawat inap, dan gejala sisa yang menetap serta mengancam jiwa. Klasifikasi serius KIPI tidak berhubungan dengan tingkat keparahan (berat atau ringan) dari reaksi KIPI yang terjadi.

Vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi COVID-19 ini masih termasuk vaksin baru sehingga untuk menilai keamanannnya perlu dilakukan surveilans pasif Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan surveilans aktif Kejadian Ikutan dengan Perhatian Khusus (KIPK).

Reaksi yang mungkin terjadi setelah vaksinasi COVID-19 hampir sama dengan vaksin yang lain. Beberapa gejala tersebut antara lain:

  1. Reaksi lokal, seperti:

  •  nyeri, kemerahan, bengkak pada tempat suntikan,
  •  reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis.

 2. Reaksi sistemik seperti:

  •  demam,
  • nyeri otot seluruh tubuh (myalgia),
  • nyeri sendi (atralgia),
  •  badan lemah,
  •  sakit kepala

 3. Reaksi lain, seperti:

  • reaksi alergi misalnya urtikaria, oedem,
  • reaksi anafilaksis,
  • syncope (pingsan)

 Untuk reaksi ringan lokal seperti nyeri, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, petugas kesehatan dapat menganjurkan penerima vaksin untuk melakukan kompres dingin pada lokasi tersebut dan meminum obat paracetamol sesuai dosis.

Untuk reaksi ringan sistemik seperti demam dan malaise, petugas kesehatan dapat menganjurkan penerima vaksin untuk minum lebih banyak, menggunakan pakaian yang nyaman, kompres atau mandi air hangat, dan meminum obat paracetamol sesuai dosis.

Sebagai penutup, masa pandemi COVID-19 yang telah menjangkiti sebagian besar negara pun hendaknya tidak menyurutkan semangat tenaga kesehatan untuk tetap menggaungkan pentingnya imunisasi dan vaksinasi, serta melakukan langkah-langkah penting untuk memastikan setiap masyarakat terutama kelompok rentan terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya termasuk COVID-19.

Sumber :

  1. 1. Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi Covid-19. Direktort Surveilans dan Karantuna Direktorat Jendral Pencegaha dan Pengendalian Penyakit. Kementrian Kesehatan. 2020
  2. 2. Keputusan Direktur Jenderal  Pencegahan  dan  Pengendalian  Penyakit  Nomor HK.02.02/4/1/2021 Tentang Petnjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)

( Oleh ; dr. Anggra Fajriansyah, SpM(K) )

Read 24 times Last modified on Rabu, 24 November 2021 14:43
Login to post comments

Visi dan Misi

Visi dan Misi Tahun 2020 - Tahun 2024

Visi

To Be Excellent Eye Care 

Misi

Eye Care for Everyone Seeing Better World 

• Eye care:
Memberikan pelayanan kesehatan mata
• For everyone:
Pelayanan yang tidak diskriminatif, kepada seluruh warga masyarakat
• Better world:
Melihat dunia dengan lebih baik

TI & SIRS 2021 © Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo. All Rights Reserved.

Search