Trauma Kimia Basa yang Dilakukan Amnion Membrane Graft

Trauma kimia pada mata sering terjadi di laboratorium kimia industri, di pabrik mesin, di pertanian, dan di antara buruh dan pekerja konstruksi juga sering dilaporkan dari pabrik kain, fasilitas perbaikan otomotif, dan kru pembersihan dan sanitasi. Trauma kimia pada mata paling sering terjadi pada kelompok umur 20 hingga 40 tahun, dengan laki-laki usia produktif yang paling berisiko. Mekanisme cedera antara trauma asam dan trauma basa sedikit berbeda. Trauma yang disebabkan oleh bahan basa lebih cepat merusak dan menembus kornea dibandingkan bahan asam. Dampak yang ditimbulkan dari trauma kimia pada mata sangat tergantung pada tingkat pH, kecepatan, dan jumlah bahan kimia yang mengenai mata. Walaupun demikian, setiap bahan kimia yang masuk ke dalam mata perlu diwaspadai agar tidak meningkatkan morbiditas dan mengganggu fungsi penglihatan. Trauma pada mata memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah kerusakan yang lebih berat agar tidak berujung pada kebutaan. Terdapat 3 tujuan utama dalam tatalaksana trauma kimia yaitu meningkatkan pemulihan epitel kornea; menambah sintesis kolagen serta meminimalkan kerusakan kolagen dan ulserasi steril; dan mengendalikan peradangan. Dalam kasus yang parah, perawatan bedah dapat diindikasikan.

Trauma kimia mata merupakan suatu keadaan darurat pada mata yang membutuhkan evaluasi dan perawatan yang segera dan intensif. Gejala sisa dari trauma kimia pada mata dapat berupa komplikasi yang parah dan sangat sulit untuk ditangani seperti kornea yang meleleh, defisiensi sel induk limbal dan glaukoma. Komplikasi cenderung terjadi dalam jangka panjang, namun diagnosis dan tatalaksana awal dapat mempengaruhi prognosis dan mencegah komplikasi yang lebih berat. Peningkatan dalam pemahaman patofisiologi trauma kimia serta kemajuan dalam rekonstruksi permukaan mata telah memberikan harapan bagi pasien yang dinyatakan memiliki prognosis visual yang buruk. Tujuan terapi adalah mengembalikan permukaan okular yang normal dan kejernihan kornea. Jika terdapat jaringan parut kornea yang luas, pencangkokan sel induk limbal, transplantasi membran amnion dan kemungkinan keratoprostesis dapat digunakan untuk membantu memulihkan penglihatan.

Trauma kimia adalah suatu keadaan rusaknya konjungtiva dan kornea yang diakibatkan oleh paparan ocular surface dengan bahan kimia baik yang bersifat asam maupun basa, yang merupakan suatu kegawatdaruratan okular dan membutuhkan penanganan segera. Trauma kimia dapat menyebabkan kerusakan berat pada permukaan bola mata dan segmen anterior yang kemudian dapat mengakibatkan gangguan visual bahkan kecacatan. Zat yang bersifat basa bersifat lipofilik dan karenanya menembus jaringan lebih cepat daripada asam. Zat yang bersifat basa menyebabkan saponifikasi asam lemak dari membran sel sel, menembus stroma kornea dan menghancurkan ikatan kolagen. Jaringan yang rusak kemudian mengeluarkan enzim proteolitik, yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Asam umumnya menyebabkan kerusakan jaringan yang tidak seberat kerusakan akibat zat basa. Zat yang bersifat asam menyebabkan kerusakan dengan mendenaturasi dan mengendapkan protein dalam jaringan. Protein yang terkoagulasi bertindak sebagai penghalang untuk mencegah penetrasi lebih lanjut. Selain anamnesa dan pemeriksaan segmen anterior lengkap, pH kedua mata harus diperiksa pada pemeriksaan awal setelah mata terpapar dengan bahan kimia. Jika pH tidak dalam batas normal, maka mata harus diirigasi hingga mencapai pH normal (antara 7 dan 7,2). Dianjurkan untuk menunggu setidaknya lima menit setelah irigasi sebelum memeriksa pH untuk memastikan hasil pengukuran pH. Pemeriksaan fisik digunakan untuk menilai tingkat cedera Secara khusus, tingkat keterlibatan kornea, konjungtiva, dan limbal harus diperiksa karena dapat digunakan untuk memprediksi prognosa visual. Fisura palpebra dan forniks harus diperiksa pada pemeriksaan awal. Konjungtiva palpebral dan bulbar diperiksa dengan fluorescein di bawah cahaya biru kobalt karena partikel yang tertahan dapat menyebabkan kerusakan

terus-menerus, meskipun telah dilakukan irigasi. Tekanan intraokular juga harus diperiksa, karena trauma kimia secara akut dan kronis menyebabkan peningkatan tekanan intra okular. Klasifikasi yang digunakan dalam trauma kimia adalah klasifikasi Roper-Hall dan klasifikasi Dua. Klasifikasi Roper-Hall didasarkan pada tingkat keterlibatan kornea dan iskemia limbal. Sedangkan klasifikasi Dua didasarkan pada perkiraan keterlibatan limbal dan persentase keterlibatan konjungtiva.

Irigasi dini sangat penting dalam membatasi durasi paparan bahan kimia. Tujuan irigasi adalah untuk menghilangkan zat yang mengkontaminasi dan mengembalikan pH fisiologis. Untuk mengoptimalkan kenyamanan pasien dan memastikan irigasi efektif, anestesi topikal umumnya diberikan sebelum tindakan irigasi. Pasien dengan trauma kimia dapat diberikan salep antibiotik topikal dan dapat digunakan untuk pelumasan okular dan mencegah infeksi. Antibiotik yang lebih kuat misalnya Fluoroquinolone topikal digunakan untuk cedera yang lebih parah. Agen sikloplegik seperti atropin atau siklopentolat dapat membantu kenyamanan pasien. Air mata buatan dan tetes mata pelumas lainnya digunakan dengan sesering mungkin untuk kenyamanan dan juga dapat diberikan steroid tetes. Pada minggu pertama setelah cedera, steroid topikal dapat membantu meredakan peradangan dan mencegah kerusakan kornea lebih lanjut. Pada cedera ringan, prednisolon topikal dapat digunakan empat kali sehari. Pada cedera yang lebih berat, prednisolon dapat digunakan setiap jam.

Selain itu, pada trauma kimia dapat diberikan terapi tambahan seperti asam askorbat yang merupakan kofaktor dalam sintesis kolagen dan dapat habis setelah cedera kimia. Asam askorbat dapat digunakan sebagai tetes topikal atau secara oral. Pemberian Vitamin C secara sistemik membantu meningkatkan sintesis kolagen dan mengurangi tingkat ulserasi. Doxycycline bekerja dengan mengurangi efek matrix metalloproteinases (MMPs) yang dapat menurunkan kolagen tipe I. Golongan tetrasiklin menghambat MMP dengan membatasi ekspresi gen neutrofil kolagenase dan gelatinase epitel, menekan degradasi

antitripsin alfa 1 dan mencari spesies oksigen reaktif, sehingga mengurangi peradangan permukaan mata. 1% Medroxyprogesterone adalah steroid progestasional dan memiliki potensi antiinflamasi yang lebih sedikit daripada kortikosteroid, tetapi memiliki efek minimum pada perbaikan stroma. Medroxyprogesterone dapat digantikan dengan steroid kortikal setelah 10-14 hari pengobatan steroid. Tetes mata plasma kaya trombosit diketahui kaya akan faktor pertumbuhan dan dapat membantu epitelisasi yang lebih cepat kelas luka bakar tertentu.

Selain pemberian terapi obat, dapat dilakukan tindakan bedah. Debridemen epitel nekrotik harus dilakukan sedini mungkin karena jaringan nekrotik dapat menjadi sumber peradangan dan dapat menghambat epitelisasi. Transposisi konjungtiva / tenon (tenonplasti) pada luka bakar derajat IV, nekrosis segmen anterior dapat terjadi akibat hilangnya suplai darah vaskular limbal. Pada iskemia limbal yang parah, ulkus kornea steril dapat terjadi. Setelah pengangkatan jaringan nekrotik, tenonplasti dapat digunakan untuk membangun kembali vaskularisasi limbal dan memfasilitasi epitelisasi ulang.

Transplantasi membran amnion juga merupakan salah satu tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk secara cepat mengembalikan permukaan konjungtiva dan mengurangi peradangan limbal dan stroma. Manfaatnya dianggap dua kali lipat, baik fisik dan biologis. Secara fisik, AMG telah terbukti meningkatkan kenyamanan pasien dengan mengurangi gesekan kelopak mata. AMG dapat digunakan sebagai suatu graft yang berperan sebagai membran dasar untuk epitelialisasi dan atau sebagai suatu tambalan yang juga bekerja seperti bandage contact lens. Melalui tindakan fisiknya, AMG juga dapat mencegah pembentukan simblepharon. Membran amnion juga dikatakan memiliki efek biologis. Dimana AMG mengekspresikan TGFB1 dan faktor pertumbuhan epidermal, yang memiliki peran dalam penyembuhan luka. Ia juga ditemukan memiliki sifat anti-inflamasi. Secara bersama-sama, efek biologis ini dapat mengurangi peradangan, meningkatkan pertumbuhan epitel, mencegah jaringan parut dan mencegah neovaskularisasi. Dikatakan bahwa tindakan pemasangan AMG dalam 2 minggu setelah trauma kimia menghasilkan proses penyembuhan pada defek epitel dan mengurangi rasa nyeri pada pasien trauma kimia tingkat II-III. Penggunaan AMG juga digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengulari peradangan permukaan bola mata dan mengurangi jaringan parut.

Komplikasi jangka panjang dari trauma kimia antara lain glaukoma, mata kering, dan kerusakan pada kelopak mata serta konjungtiva. Dimana komplikasi yang terjadi dapat diperberat oleh tatalaksana awal yang tidak memadai dan mengakibatkan semakin lama kontak mata dengan bahan kimia yang memperberat kerusakan jaringan. Pada pasien ini penanganan awal dinilai cukup cepat dan tepat sehingga tidak ditemui komplikasi yang mungkin terjadi.

Simpulan

Trauma kimia adalah suatu kegawatdaruratan pada mata yang memerlukan penanganan segera karena akan bergantung pada prognosis pasien. Sebagai penanganan pertama dapat dilakukan irigasi hingga pH mata mencapai pH normal kemudian dapat dinilai keadaan klinis pasien yang kemudian dapat dikategorikan dengan berbagai klasifikasi. Selain pemberian obat-obatan pada keadaan yang lebih berat dapat dilakukan tindakan pembedahan untuk memberikan fungsi visual yang lebih baik.

( oleh : Nadya Beatrix Yohanna Napitupulu, dr / dr.Susi Heryati, Sp.M(K) | PMN RS Mata Cicendo / Ilmu Kesehatan Mata FK Unpad )

DAFTAR PUSTAKA