Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

 

Follow Us

Who's Online

 Tamu : 73 
Cicendo Eye Hospital
MASYARAKAT BISA TELPON 119 UNTUK KASUS GAWAT DARURAT MEDIK PDF Cetak E-mail

Dari data Health Sector Review tahun 2014, diketahui bahwa beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran pola penyakit dimana 3 peringkat penyakit tertinggi yang menjadi beban di Indonesia yaitu penyakit cerebrovascular (peringkat pertama), kecelakaan Lalu Lintas (peringkat kedua) dan penyakit jantung iskemik (peringkat ketiga).

Dengan meningkatnya kasus kegawatdaruratan penyakit-penyakit tersebut di atas, mendorong Kementerian Kesehatan untuk melakukan terobosan baru guna meningkatkan layanan kegawatdaruratan, yaitu melalui layanan 119 yang digunakan diseluruh wilayah Indonesia.

Layanan kegawatdaruratan medis melalui nomor 119 dapat diakses secara luas dan gratis oleh masyarakat melalui telepon seluler maupun rumah. Layanan kegawatdaruratan ini merupakan integrasi antara Pemerintah Pusat melalui Pusat Komando Nasional 119 yang berlokasi di Kementerian Kesehatan dengan Pemerintah Daerah melalui Public Safety Center (PSC) yang ada di tiap Kabupaten/Kota. Sesuai Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2013, mengamanahkan setiap kabupaten/kota harus membentuk 1 (satu) PSC yang berfungsi sebagai pusat koordinasi layanan kegawatdaruratan di suatu daerah. Untuk itu, secara bertahap layanan ini akan terus dikembangkan sampai semua daerah otonom (kabupaten/kota) memiliki PSC.

Pusat Komando Nasional 119 atau National Command Center 119 berfungsi sebagai pusat komando nasional untuk layanan kegawatdaruratan. NCC 119 akan menggabungkan dan mengkoordinasikan PSC-PSC yang ada di daerah. Pelayanan medik yang diberikan oleh PSC 119 antara lain: panduan tindakan awal melalui algoritma gawat darurat, mengirim bantuan petugas dan ambulan, mengirim pasien ke faskes terdekat.

"Saat ini dari 539 kabupaten/kota baru ada 27 PSC 119 yang tergabung dengan NCC 119, antara lain: Aceh, Medan, Kabupaten Bangka, Kota Bandung, Kota Yogyakarta, Kota Solo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Tulung Agung, Kota Mataram, DKI Jakarta, Kabupaten Bangtaeng, Manado, Kabupaten Tangerang, Kota Palembang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Makasar, RSUP Kandau Manado, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Sragen, Kabupaten Kendal, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Tuban, Kabupaten Trenggalek, Kota Denpasar, BPBD Provinsi Bali dan Kabupaten Badung Bali", ungkap Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) saat acara Peluncuran 119 Integrasi Gawat Darurat Medik di Indonesia (1/7).

Menkes mengingatkan bagi daerah yang belum memiliki PSC tentunya akan kesulitan untuk mendapatkan layanan kegawatdaruratan ini, karena penanganan kegawatdaruratan tergantung pada PSC.

Tentunya awal peluncuran layanan 119 ini akan mengalami kendala, seperti saat ini baru disediakan 10 operator yang melayani seluruh masyarakat Indonesia sehingga kemungkinan adanya panggilan yang menunggu atau tidak terjawab. Selain itu, PSC yang terkoneksi dengan NCC saat ini baru 27 PSC artinya terdapat kendala koneksi dari NCC ke PSC yang kurang baik dan cepat, sehingga memungkinkan adanya gangguan dalam mentransfer panggilan dari NCC ke PSC. Untuk PSC memiliki kendala, yaitu jumlah SDM dari tenaga operator maupun tenaga kesehatan yang terbatas, ditambah dengan minimnya jumlah ambulans yang dimiliki, sehingga memungkinkan lambannya respon layanan kegawatdaruratan/ambulans. Seiring berjalannya waktu, layanan 119 akan terus mengalami perbaikan dan evaluasi, sehingga nantinya layanan ini menjadi pilihan utama untuk pertolongan gawat darurat.

*Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-5277734
atau alamat e-mail:
humas.yankes@gmail.com 
(sumber : http://yankes.kemkes.go.id/read-masyarakat-bisa-telpon-119-untuk-kasus-gawat-darurat-medik-761.html)

 
Bermain Ponsel dalam Gelap Bisa Sebabkan Kebutaan Sesaat PDF Cetak E-mail

Ilustrasi main handphone sebelum tidur (Dailymail.co.uk)

Jika Anda suka main ponsel sebelum tidur malam, sebaiknya segera hentikan kebiasaan tersebut. Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine menulis, beberapa wanita mengalami kebutaan sesaat setelah bermain ponsel dalam gelap.

Studi tersebut mencatat, seorang wanita usia 22 di Inggris menyadari mata kanannya tidak berfungsi sempurna selama beberapa malam. Dia hanya bisa melihat bayangan samar di dalam kamar. Tapi ketika dia memeriksakan diri ke dokter, kondisi matanya baik-baik saja dan hasil pindai otak pun tak menunjukkan ada masalah.

 

Sementara itu wanita lain usia 40 juga mengatakan mengalami kondisi serupa. Dia kehilangan penglihatan pada mata kanannya selama 20 menit dalam beberapa malam. Tapi kondisinya dinyatakan baik-baik saja saat periksa ke ER.

Melansir laman Glamour, Sabtu (25/6/2016), kehilangan penglihatan pada salah satu mata bisa jadi pertanda stroke. Para dokter menemukan bahwa wanita-wanita tersebut memiliki kesamaan: mereka memandang layar ponsel di tempat tidur dalam kondisi gelap dan salah satu mata tertutupi.

Jadi, wanita usia 22 tahun itu biasa bermain ponsel sebelum tidur. Dia berbaring ke kiri dan salah satu matanya tertutup bantal saat memandang layar ponsel. Wanita lainnya biasa membaca berita dari layar ponsel sebelum matahari terbit, juga dengan salah satu mata terhalang bantal.

Dokter menyebut kondisi kebutaan sesaat itu dengan "transient smartphone blindness" dan mengatakan bisa menimpa siapa saja yang terbiasa bermain ponsel dalam gelap. Mata yang digunakan untuk memandang ponsel akan mengalami "kebutaan" sesaat.

Sebaiknya pastikan Anda tak ada salah satu mata yang terhalangi saat Anda menatap layar ponsel. Dan usahakan untuk tidak bermain ponsel dalam gelap.

(sumber : http://health.liputan6.com/read/2539513/bermain-ponsel-dalam-gelap-bisa-sebabkan-kebutaan-sesaat)
Ilustrasi main handphone sebelum tidur (Dailymail.co.uk)

 
Pemeriksaan Kesehatan Kurangi Faktor Risiko Kecelakaan PDF Cetak E-mail

Setiap tahun, tradisi mudik jelang hari raya hampir pasti dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Peningkatan jumlah pemudik selalu diikuti dengan peningkatan jumlah risiko kecelakaan transportasi lalu lintas. Pada saat situasi khusus terdapat perpindahan massa dari kota ke daerah asal, misalnya saat mudik lebaran, liburan natal, tahun baru dan situasi khusus lainnya, sebagian besar menggunakan alat transportasi darat, salah satunya adalah bus umum.

Pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi penting untuk mengurangi faktor risiko kecelakaan di jalan raya pada saat mudik lebaran, tutur Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG (K), MARS, pada pembukaan Pertemuan Sosialisasi Kesehatan untuk Mencegah Faktor Risiko Kecelakaan Saat Mudik Lebaran 2016/1437 H, di Kantor Kemenkes RI di kawasan Kuningan Timur, Jakarta Selatan (8/6).

Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2004 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu menyatakan Kementerian Kesehatan berfungsi meningkatkan pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan yang ada pada tempat-tempat yang diperlukan pada jalur angkutan lebaran, yang mana salah satu pelayanan kesehatan yang dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan pengemudi.

Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan pada pengemudi yang memiliki jarak tempuh cukup lama setidaknya lebih dari 4 jam atau mempunyai rute yang padat dan sering, seperti  pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Pemeriksaan kesehatan diberlakukan juga bagi pengemudi pengganti dalam satu armada tersebut.

Faktor pengemudi berperan penting dalam hal keselamatan penumpang, tandas dr. Bambang.

Kegiatan deteksi dini faktor risiko cedera akibat Kecelakaan Lalu Lintas Darat (KLLD) yang dilakukan berupa pemeriksaan tekanan darah, alkohol dalam darah melalui pernafasan, kadar amphetamine di urine dan kadar gula darah sewaktu.

Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi kesehatan khususnya untuk manajemen PO bus dan pengemudinya untuk selalu menanamkan perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam upaya pencegahan faktor risiko kecelakaan di jalan raya khususnya dalam menghadapi arus mudik lebaran.

Masa pemantauan dan pelaksanaan kegiatan kesehatan arus mudik adalah pada H-12 sampai H+10 untuk angkutan darat, tambah dr. Bambang.

Kementerian Kesehatan turut mendukung kegiatan Dekade Aksi Keselamatan Jalan dengan target global (2020) menurunkan 50% fatalitas korban dengan cedera berat, dengan melakukan kegiatan 4 deteksi dini tersebut pada pengemudi angkutan umum sebagai salah satu upaya promotif dan preventif dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dari kecelakaan lalu lintas darat.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, drg. Kartini Rustandi, M.Kes, menuturkan beberapa kegiatan penting yang telah dilakukan terkait kesiapan kesehatan dalam pemeriksaan kesehatan pengemudi pada Mudik Lebaran 2016 / 1437 H antara lain:

  • Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi terkait pemeriksaan kesehatan kepada pengemudi di terminal, rest area dan fasilitas kesehatan sepanjang jalur mudik dan balik.
  • Menginstruksikan kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk menyiapkan Pos Kesehatan di Bandara dan Pelabuhan.
  • Menyiapkan dan menyebarluaskan tips kesehatan untuk pengemudi agar aman dan selamat saat mudik Lebaran dalam bentuk spanduk, leaflet, standing banner dan buku saku kesehatan pengemudi.
  • Menyiapkan pemeriksaan kesehatan pengemudi bus, termasuk pemeriksaan kadar alkohol dan zat berbahaya lainnya. Ini dilakukan untuk keselamatan penumpang.

Kejadian kecelakaan lalu lintas darat mendominasi di antara jenis kecelakaan yang lain dengan proporsi sekitar 25% (WHO, 2004). Kejadian kecelakaan lalu lintas darat cenderung meningkat dalam jumlah maupun jenisnya dengan perkiraan angka kematian dari 5,1 juta pada tahun 1990 dan diperkirakan menjadi 8,4 juta pada tahun 2020 atau meningkat sebanyak 65%. Data Riskesdas (2007) menyebutkan bahwa prevalensi kecelakaan transportasi darat mencapai 25,9% dari seluruh penyebab cedera lainnya.

Bila membandingkan data Posko Operasi Ketupat tahun 2015 (Korlantas Polri) untuk kejadian kecelakaan saat mudik lebaran tahun 2014 dan 2015, terjadi penurunan jumlah kasus kecelakaan dari 3337 menjadi 3048, dengan jumlah kematian 722 kasus (2014) menjadi 646 kasus (2015).

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes
melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669,
dan alamat email kontak@kemkes.go.id.  (sumber : www.depkes.go.id)

 
15 Hal Menarik Tentang Mata PDF Cetak E-mail
  • Mata memiliki lebih dari 2 juta bagian yang bekerjasama untuk menghasilkan suatu persepsi
  • Rerata orang berkedip adalah 12 kali per menit sehingga terjadi sekitar 10.000 kedipan
    per hari
  • Mata dapat memproses 36.000 bit informasi setiap jam.
  • Hanya 1/6 bola mata terkena dunia luar, dan 1/6 nya adalah kornea
  • Bulu mata memiliki rentang hidup rata-rata 5 bulan.
  • Bola mata dari manusia berat sekitar 28 gram dengan diameter dari depan-belakang sekitar
    24 mm.
  • Mata Anda akan fokus pada hal-hal sekitar 50 per detik.
  • Sekitar setengah dari otak kita terlibat dalam proses penglihatan.
  • ”Pemanasan” mata dalam mencapai potensi kerja maksimal sangat cepat dibandingkan organ lainnya, yaitu 24:7
  • Otot-otot eksternal yang menggerakkan mata adalah otot terkuat dalam tubuh manusia untuk pekerjaan yang harus mereka lakukan, yaitu 100 kali lebih kuat dari otot lainnya
  • Luka pada lapisan luar kornea akan sembuh dalam 48 jam
  • Bayi baru lahir tidak menghasilkan air mata walaupun menangis dengan suara keras
  • Setiap mata memiliki “area buta”, tetapi kita tidak menyadarinya karena kedua mata kita saling bekerjasama untuk mengisi “area buta” tersebut.
  • Setiap 5 menit terdapat 1 orang dewasa yang menjadi buta di seluruh dunia, dan
    setiap 1 menit terdapat 1 anak yang menjadi buta.
  • 80% kebutaan dapat dicegah dan diobati

sumber : ofkom.org

 
M i t o s PDF Cetak E-mail

Getah Tanaman Nanangkaan

Pengobatan alternatif selalu menjadi pilihan masyarakat dalam mengobati penyakit yang dideritanya. Selain murah, yang sering di lakukan berobat secara alternatif biasanya menggunakan obat-obatan tradisional. Seperti yang sudah di lakukan N, 24 tahun “saya hampir tidak pernah berobat ke dokter,” ujar ibu 2 anak ini.

Mengobati anaknya, atau suaminya, N selalu memanggil “aki” yang menjadi langganannya. Termasuk N sendiri, ketika matanya mulai terasa pusing dan disertai dengan mual-mual. Bukan pergi berobat ke dokter, ia malah memanggil “aki” untuk segera datang kerumah.

Padahal mata N sudah minus 1 yang kiri, sedangkan mata kanannya minus 1,5 ditambah silindris. Pengobatan alternatif selalu menjadi pilihannya. Cara pengobatan yang dijalaninnya adalah dengan ditotok. Dipijit dan bagian-bagian yang pentingnya saja. Istilah dibuka syarafnya supaya lancar peredaran darahnya.

Semua jenis penyakit hampir sama cara pengobatannya. Tetapi ada beberapa bagian yang di pijat agak lama. Selain itu anjuran obat yang harus diminumpun berbeda-beda. Nah, khusus untuk mata pijatan yang paling lama pijatan yang paling lama pada bagian siku tangan. Sebelumnya, pijatan bagian kaki, paha, punggung, kepala, dst. Titik refleksi. Sudah dilakukan.

Jika sudah di pijat bagian lengan, mata N sudah mulai sehat. Tidak terasa pusing lagi. Bahkan sebaliknya kalau kacamatanya dipakai, terasa pusing dan buram. Tapi,itu hanya berlangsung beberapa hari saja, selebihnya kembali seperti semula, pusing, mual dan buram. “Tanpa kacamata, kalau melihat sesuatu itu harus memicingkan mata,” tegasnya .

Walaupun demikian, N tidak bosan-bosannya “berobat” kepada Aki. Dan ia juga selalu mengikuti anjuran dari Aki.

Beberapa waktu yang lalu, mata N terasa sakit juga disertai dengan pusing. Seperti biasa ia memanggil Aki. Usai dipijat.Aki Maman diberi segelas air minum yang sudah di jampi-jampi. Selanjutnya, N disarankan mencari tanaman Nanangkaan-Red Sunda. Getahnya di teteskan kemata. “Insya Allah, dengan getah itu, penyakit matanya akan hilang, lamad yang menghalangi mata akan hilang terkikis dengan getah nanangkaan tadi” tegas Aki.

Hendrapun sibuk mencari, tanaman tersebut. Jarang ditemukan, dan tidak banyak orang yang tahu tentang tanaman tersebut. Tetapi atas bantuan tetangganya, bisa juga ditemukan tanaman itu. Sudah hampir satu bulan N meneteskan getah tanaman itu pada matannya, tetapi hasilnya belum ada perubahan .

Karena bosan, cape dan tanamannya susah dicari, N pun menghentikan “pengobatan”nya. Padahal menurut aki, setelah tiga atau empat kali di tetes menggunakan getah tanaman itu, penyakit trahumnya akan sembuh. Buktinya, N sudah lebih dari 4x, tetap belum sembuh.
(sumber : Majalah MATA, PMN RS Mata Cicendo Edisi No. 02/2013)

 

 
« MulaiSebelumnya11121314151617181920BerikutnyaAkhir »

Halaman 12 dari 22


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.