Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

 

Follow Us

Who's Online

 Tamu : 102 
Cicendo Eye Hospital
Berbagai Kisah Salah Kaprah PDF Cetak E-mail

Tabib Yang Selalu Berpindah

Sudah sekitar lima tahun mata sebut saja namanya Ny D, 37 tahun, terasa pedih, berair, dan pandangannya buram. Tahun 2005 sempat di periksa ke salah seorang dokter di rumah sakit umum di Bandung, ibu tiga anak ini, kata dokter matanya katarak. Untuk menghilangkan rasa penasaran, dengan diantar suaminya ia memeriksakan matanya ke Rumah Sakit Mata Cicendo, hasilnya sama. Mata Ny. D terindikasi katarak dan harus dioperasi segera.

Rasa sedih, takut, serta rasa ingin sembuh bercampur menjadi satu, “waktu itu perasaan saya tidak menentu. Tapi mata saya pingin sembuh,” ujarnya.

Berbagai cara dilakukan D untuk mengobati matanya supaya bisa sembuh tanpa operasi. Banyak informasi yang ia terima dari teman, keluarga dan tetangganya. Coba diobati dengan alternatif. “katanya banyak orang pintar yang bisa mengobati mata, sembuh tanpa harus operasi” jelas D. Berbagai ramuan serta minuman jus wortel hampir setiap hari ia lakukan. Karena menurut orang tua dulu, dengan banyak makan wortel penyakit mata akan hilang.

Hasilnya, tidak ada peningkatan matanya tetap saja buram. “tidak tahu sugesti atau bagaimana, setiapkali habis minum jus wortel rada-rada sedikit lega, tapi kalau penglihatannya tetap saja” akunya. Sebagai manusia normal rasa putus asa selalu menghantuinya. Bahkan ia sempat berfikiran jelek kalau seandainya matanya benar-benar buta. Tak terbayangkan oleh D, bagaimana masa depan keluarga dan anak-anaknya yang masih memerluka bimbingan dari seorang ibu.

Informasi dari temannya, ada pengobatan alternatif di suatu daerah di Kabupaten Bandung. Iklannya terpampang juga disalah satu surat kabar terbitan lokal. Dengan semangat dan dukungan suaminya dan keluarganya, D pun berangkat menuju lokasi tersebut diantar keponakannya.

Disebuah rumah yang tidak terlalu besar itu, ternyata ada beberapa orang pasien yang mau berobat dengan penyakit yang berbeda-beda. Bahkan pasiennyapun berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Seperti Indramayu, Garut, Bekasi, dan lain-lain.

Seperti hanya mau berobat ke rumah sakit, D pun harus mendatar terlebih dahulu di meja pendaftaran yang sudah di tunggui oleh dua orang yang berpakaian seperti petugas parawali. Berjubah hitam, memakai ikat kepala dan bersorban. Biaya pendaftarannya waktu itu sekitar Rp. 100.000,00 dan menyertakan identitas diri serta keluhan.

Petugas juga menanyakan darimana tahu tempat pengobatan tersebut. D pun menjawabnya, dari surat kabar. Selanjutnya ia menunggu di ruang tunggu. Ruangannya sebenarnya masih di sekitar tempat pendaftarannya karena sang tabib sedang “mengobati” pasien yang stroke berat.

Hampir satu jam D menunggu panggilan, karena ia mendapatkan no antrian 13. Pada saat ia sedang datang baru pasien nomor urut 10 yang masuk ruangan pemeriksaan. Tidak lama kemudian, D pun di panggil. Selanjutnya dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan yang di dalam kamar tersebut sudah ada seorang tabib. Setelah bersalaman, D menceritakan keluhannya. Sang tabib hanya mengangguk-angguk sambil menundukan kepala dan mulutnya komat-komat seperti sedang berbicara atau mungkin sedang membacakan mantra untuk kesembuhan pasien.

Selang beberapa menit, sang tabib meminta izin pada D untuk mengurut semua bagian tubuhnya. Karena katanya ada salah satu urat yang harus “dirapihkan”. Tanpa sungkan D pun mempersilahkan tabib itu mengurut tubuhnya. Sekitar 30 menit D diurut. Pada bagian mata antarnya alis dan bawah mata diurut agak lama, diurut seperti membuat lingkaran. Konon, kata sang tabib urat-urat saraf dibagian agak bermasalah. Setelah itu D diberikan anjuran agar sering-sering makan sayuran terutama wortel. Selanjutnya ia juga harus minum air mineral dan makanan obat ramuan khusus yang sudah disediakan di meja pembayaran.

Menurut Tabib, jika sudah meminum ramuan dan minum air hasil ramuannya.”Insya Allah mata ibu akan sembuh seperti sediakala,’’ujar sang Tabib menyakini, Bahkan, katanya beberapa hari yang lalu, ada seorang ibu yang matanya sudah parah sampai jalannya pun dituntun. Setelah diurut-urut oleh Tabib, pulangnya sudah bisa jalan sendiri. “Subhannallah, semoga ibu cepat sembuh” ujar Tabib.

Selesai diterapi, D diwajibkan membayar biaya terapi dan membeli obat ramuan Tabib. Oleh petugas obat, D disodori kuitansi pembayaran obat dan biaya terapi sebesar Rp.300.000. D pun pulang dengan membawa satu botol mineral dan satu bungkus obat ramuan berupa kapsul.

Air mineral serta obat ramuan sang Tabib sudah habis diminum D. Setiap hari 3x minum. Pagi, siang, dan malam. Walaupun sudah habis ramuan tersebut, mata D tidak ada perubahan tetap buram / katarak. Suami D mencoba menelepon Tabib tersebut tetapi sayang sang Tabib sudah pindah.

Selama menjalankan tugasnya sebagai Tabib, dia selalu berpindah-pindah tempat. Karena menurutnya, orang yang mengidap penyakit itu juga ada dimana-mana. Sang tabib belum berkeluarga, dalam menjalankan tugasnnya dibantu oleh dua orang karyawan yang bertugas sebagai administrasi-meja pendaftaran dan pengambilan obat sekaligus sebagai bendahara.

(sumber : Majalah Mata PMN RS Mata Cicendo, edisi no. 02/2013)

 

 
Sekilas bersama Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, SpM(K) PDF Cetak E-mail

Sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (Perdami) Pusat dan juga sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, SpM(K) yang pada beberapa waktu lalu berkunjung ke PMN RS Mata Cicendo menyampaikan bahwa seluruh anggota Perdami mempunyai tugas dan wajib hukumnya untuk membuat orang “melihat”. Artinya, dokter mata harus melakukan upaya-upaya preventif, kemudian promotif untuk mata. “Jadi seperti kegiatan peringatan World Sight Day, jelas suatu promosi bagaimana menjaga kesehatan mata”, katanya.

Prof Nila tidak memungkiri katarak tidak bisa dicegah karena ada faktor usia. Tetapi secara preventif katarak itu bisa direhabilitasi. Jangan sampai terlambat, sebab kalau terlambat tidak bisa lagi direhabilitasi.

Secara dini, misalnya anak-anak dengan kelainan refraksi, karena anak-anak mempunyai kurun waktu, dia bisa melihat kembali. Artinya, mata anak-anak masih berkembang, tidak begitu lahir bisa melihat. Saat bayi lahir melihat cahaya, terang-gelap. Sempurnanya di usia 5 – 6 tahun.

Kita harus berupaya preventif. Caranya melalui pola hidup sehat. Di negara maju, katarak diderita oleh lansia, berusia 60 tahunan, anggap saja usianya sampai 80 tahun. Jadi masalah hidup dialami selama 20 tahun.

Di Indonesia, banyak yang masih berusia produktif, 46 tahun sudah menderita katarak, usianya sampai 72 tahun. Jadi permasalahan hidupnya menjadi lebih panjang. “Saya salut, angkat topi untuk dokter mata yang melakukan bakti sosial katarak, apalagi sampai pelosok di luar Jawa”.

(sumber : Majalah Mata edisi 03/2013, PMN RS Mata Cicendo)

 

 
EXPO AKREDITASI PMN RS. MATA CICENDO BANDUNG PDF Cetak E-mail

Dalam rangka sosialisasi Akreditasi Rumah Sakit Tahun 2013, Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo mengadakan kegiatan Expo Akreditasi yang berlangsung tanggal 18 - 22 Februari 2013 bertempat di Aula Gedung Pendidikan Lantai 3.

Dengan Kegiatan ini, diharapkan dapat menambah wawasan, kepedulian, dan pengetahuan karyawan dalam peningkatan pelayanan terhadap pasien

 

 
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama PDF Cetak E-mail

Direksi Pusat Mata Nasional RS.Mata Cicendo berfoto bersama perwakilan dari PT. Kaltim Medika Utama, PT. Bintang Agung, Poltekes Kemenkes Tasik dan Stikes Budi Luhur seusai penandatanganan perjanjian kerjasama di Pusat Mata Nasional RS.Mata Cicendo pada hari Senin 26 Februari 2013.

 
Puncak acara 104 tahun CICENDO PDF Cetak E-mail

Dalam rangkaian 104 Tahun PMN RS Mata Cicendo Bandung yang puncaknya diperingati pada 12 Januari 2013, Ibu Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH meresmikan Gedung Baru Poliklinik 4 lantai, Gedung Baru Pelayanan Paviliun, dan Gedung Baru Cicendo Lasik Center.

Pada kesempatan tersebut turut dimeriahkan oleh acara Seminar Kesehatan Mata, Fun Bike, Talkshow, dan Pameran Fotografi tentang Mata yang juga diikuti dan dihadiri oleh masyarakat umum. Beberapa artis seperti Melly ‘She’ dan Arnie ‘She”, Pia ‘Uthopia’, Tantra ‘Numata’ dan lain-lain juga turut memeriahkan peringatan 104 Tahun PMN RS Mata Cicendo.

Aksi memukau Penurunan Banner 104 Tahun PMN RS Mata Cicendo dari atap gedung Poliklinik 4 lantai oleh seorang dokter konsulen dan seorang calon dokter spesialis mata wanita juga turut memeriahkan acara kali ini.

Setiap 5 menit 1 orang menjadi Buta, sudahkah kita Peduli Mata ? “

Berita ini juga disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI melalui link website http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/2191-menkes-resmikan-pembangunan-cicendo-lasik-center-dan-poliklinik-4-lantai.html

 

 
« MulaiSebelumnya212223242526BerikutnyaAkhir »

Halaman 24 dari 26


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.