Terapi Imunosupresif pada Inflamasi Intraokular PDF Cetak E-mail

Inflamasi intraokular merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah. Pemberian medikamentosa pada inflamasi intraokular bertujuan untuk mengontrol inflamasi secara efektif. Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan ataupun menghilangkan risiko gangguan penglihatan akibat komplikasi yang disebabkan oleh inflamasi yang tidak terkontrol. Penyakit inflamasi intraokular yang bersifat kronis membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mengontrol inflamasinya. Kortikosteroid dapat mengontrol inflamasi secara efektif, namun penggunaannya dibatasi oleh efek samping lokal maupun sistemik, terutama pada penggunaan jangka panjang. Efek samping kortikosteroid sistemik dapat dikurangi dengan metode corticosteroid-sparing therapy menggunakan obat imunomodulator.

Obat imunomodulator yang bersifat imunosupresif digunakan untuk mengontrol inflamasi yang tidak memberi respon adekuat terhadap kortikosteroid dan untuk mencegah toksisitas penggunaan kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang. Terapi imunosupresif yang sesuai indikasi dan kontrol risiko efek samping dapat menginduksi remisi penyakit. Sari kepustakaan ini bertujuan untuk membahas mengenai jenis-jenis obat imunosupresif, mekanisme kerja, indikasi, kontraindikasi, efek samping dan efektivitas obat imunosupresif dalam pengobatan penyakit inflamasi intraokular.

Imunomodulator adalah obat yang mampu memodifikasi atau meregulasi sistem kekebalan tubuh dan bekerja melalui berbagai mekanisme yang berbeda sesuai dengan golongan obat tersebut. Obat imunosupresif merupakan imunomodulator yang bekerja menurunkan atau menghambat respon imun terhadap suatu stimulus.

Empat golongan imunomodulator dalam terapi imunosupresif penyakit inflamasi intraokular antara lain golongan antimetabolit (azatioprin, metotreksat dan mikofenolat mofetil), penghambat kalsineurin (siklosporin dan takrolimus), agen alkilasi (siklofosfamid dan klorambusil), dan agen biologis (anti TNF-α).

Agen imunosupresif sistemik digunakan dengan memperhatikan indikasi dan kontraindikasinya agar mencapai hasil jangka panjang yang baik. Pemeriksaan laboratorium awal dan pemantauan terapi berkala perlu dilakukan untuk meminimalisir potensi efek samping. Hal-hal yang harus dipastikan sebelum memulai terapi imunosupresif yaitu tidak terdapat infeksi, tidak ada kontraindikasi hepatik dan hematologis, tersedianya pendukung pemeriksaan lanjutan, memungkinkan evaluasi jangka panjang proses penyakit, serta persetujuan tindakan medis secara tertulis.

Pemeriksaan awal sebelum memulai terapi imunosupresif berupa pemeriksaan darah lengkap, enzim hati dan fungsi ginjal. Khusus untuk azatioprin diperlukan pemeriksaan kualitatif TPMT. Pemeriksaan tuberkulin dan serologis hepatitis B dilakukan sebelum pengobatan dengan agen biologis.

Simpulan

Obat imunosupresif mengontrol inflamasi intraokular dengan menghambat sintesis maupun aktivasi sel dan mediator inflamasi. Penggunaan obat imunosupresif dilakukan sesuai indikasi disertai pemantauan efek samping secara berkala. Kebanyakan efek samping obat imunosupresif yang sering terjadi bersifat reversibel dengan menurunkan dosis atau penghentian obat. Terapi imunosupresif menurunkan dosis kortikosteroid ke dosis yang aman untuk penggunaan jangka panjang, memberikan kontrol inflamasi yang baik, menginduksi remisi penyakit inflamasi intraokular, dan mengurangi morbiditas okular.

(disarikan dari Sari Kepustakaan Terapi Imunosupresif pada Inflamasi Intraokular oleh Tjoa Debby Angela Tjoanda, dr / Dr dr Elsa Gustianty, SpM(K), M.Kes | PMN RS Mata Cicendo / IK Mata FK Unpad)

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.