Diagnosis dan Tatalaksana Pasien dengan Keratitis Acanthamoeba PDF Cetak E-mail

Keratitis Acanthamoeba adalah suatu infeksi parasit pada mata yang dapat mengancam penglihatan. Biasanya dikarakteristikan dengan nyeri hebat dan infiltrat yang berbentuk seperti cincin. Dua spesies yang berperan diantaranya A. castellanii dan A. polyphaga. Sebagian besar kasus ini terjadi pada penggunaan lensa kontak. Penyebab lainnya adalah trauma kornea yang berhubungan dengan vegetasi ataupun air yang terkontaminasi, kontak dengan serangga maupun riwayat berendam dalam mata air panas.Keratitis Acanthamoeba pertama kali ditemukan pada tahun 1973. Pada tahun 2007 ditemukan adanya peningkatan hebat dari kasus infeksi Acanthamoeba di Amerika serikat, khususnya di daerah East Coast dan Midwest. Diketahui bahwa terdapat asosisasi antara keratitis Acanthamoeba dengan penggunaan cairan pembersih lensa kontak Complete MoisturePlus yang berakibat pada penarikan produk ini dari pasaran. Selain itu, Center for Disease Control (CDC) mengumumkan pada tahun 1980 bahwa diketahui 85% keratitis Acanthamoeba berhubungan penggunaan lensa kontak dan jumlah ini terus meningkat menjadi 95% di Inggris pada tahun 1990.

Pasien dengan keratitis Acanthamoeba secara klasik digambarkan memiliki nyeri mata yang hebat, rasa silau, serta berbagai gejala yang memberat dan menetap cukup lama. Seringkali, pada awalnya mereka tidak menunjukkan respons terapeutik terhadap berbagai agen antimikroba topikal. Infeksi Acanthamoeba sp. pada awalnya terlokalisasi pada epitel kornea dan dapat bermanifestasi sebagai gejala ringan seperti epitel pungtat difus atau lesi epitel dendritik. Infeksi pada stroma biasanya terjadi pada kornea sentral dengan infiltrat superfisial berwarna putih hingga abu-abu. Ketika penyakit berkembang, dapat terbentuk cincin parsial ataupun komplit pada infiltrat di kornea sentral. Bila diperhatikan lebih lanjut saraf kornea yang meradang, yang disebut sebagai radial perineuritis atau radial keratoneuritis dapat ditemukan. Begitu juga dengan limbitis, fokal, nodular, ataupun difus skleritis hingga dacryoadenitis dapat terlihat. Pada umumnya penyakit ini terjadi bilateral pada 7% - 11% pasien. Meskipun ekstensi intraokular dapat terjadi, ensefalitis belum pernah dilaporkan.

Diagnosis keratitis Acanthamoeba dibuat dengan memvisualisasikan amoeba pada apusan kornea atau dengan membiakkan organisme yang diperoleh dari kerokan kornea. Namun, hanya 35% -50% hasil kultur positif untuk Acanthamoeba; sejumlah besar kasus diobati berdasarkan presentasi klinis dan atau temuan mikroskopi konfokal.1,2 Biopsi kornea lamelar mungkin diperlukan untuk menegakkan diagnosis pada beberapa kasus. Lensa kontak dan peralatan terkait dapat diperiksa, tetapi kontaminasi signifikan tanpa gejala juga dapat ditemukan. Acanthamoeba terlihat pada apusan yang diwarnai dengan Giemsa atau dengan Periodic Acid-Schiff (PAS), calcofluor white, atau menggunakan pewarnaan acridine orange. Agar nonnutrient dengan lapisan E coli atau Enterobacter aerogenes adalah media yang lebih disukai untuk membudidayakan amoeba, meskipun organisme juga tumbuh baik pada charcoal-yeast extract agar. Pada hasil kultur dapat diamati jejak tropozoit motil yang berjalan melintasi permukaan lempeng kultur. Mikroskopi konfokal in vivo juga dapat digunakan untuk menunjukkan organisme, terutama yang bentuk kista.

Tatalaksana keratitis Acanthamoeba diawali dengan debridemen epitel yang diikuti dengan terapi antiamoebik (3-4 bulan). Sejumlah agen antimikroba telah direkomendasikan untuk perawatan medis keratitis Acanthamoeba berdasarkan efek amoebisidal in vitro mereka serta keefektifan klinisnya. Agen yang digunakan untuk pemberian topikal meliputi diamidine (propamidine dan hexamidine), biguanide (polyhexamethylene biguanide, chlorhexidine), aminoglikosida (neomisin, paromomisin), imidazol/ triazol (vorikonazol, mikonazol, klotrimazol, ketokonazol, itrakonazol. Dari jumlah tersebut, hanya biguanida yang terbukti memiliki efikasi in vitro dan klinis yang konsisten terhadap kista dan tropozoit.

Diagnosis dini keratitis Acanthamoeba adalah indikator prognostik terpenting dari hasil pengobatan yang berhasil. Namun, keterlambatan diagnostik sering terjadi karena presentasi penyakit yang tidak spesifik dan perlunya metode diagnostik mikrobiologis khusus. Kasus yang diidentifikasi awal, didefinisikan sebagai epitel atau anterior stromal, memiliki prognosis visual yang sangat baik. Keterlibatan stroma yang dalam pada peradangan, adanya infiltrasi cincin, atau manifestasi ekstrakorneal secara signifikan memperburuk prognosis karena perkembangan jaringan parut stroma membutuhkan pengobatan yang lebih lama. (hingga satu tahun atau lebih). Sebagai terapi tambahan, dapat dilakukan terapi keratoplasti bila diperlukan.

Simpulan

Keratitis Acanthamoeba adalah penyakit yang terkadang secara klinis sulit dibedakan dari keratitis yang disebabkan oleh viral ataupun bakteri. Diagnosis Keratitis Acanthamoeba dilakukan dengan anamnesis yang mendalam diikuti dengan mencari gambaran klinis yang khas pada pemeriksaan oftalmologis. Apus kornea dibutuhkan untuk membantu penegakkan diagnosis ini. Terapi pada keratitis Acanthamoeba berpusat pada dilakukannya debridemen dan pemberian antiamoebik yang bersifat amoebisidal dalam jangka waktu yang cukup panjang. Keterlibatan stroma yang dalam pada peradangan, adanya infiltrasi cincin, atau manifestasi ekstrakorneal secara signifikan memperburuk prognosis.

(Oleh Lina Shabrina Qorib S, dr / Susi Heryati, dr, SpM(K), PMN RS Mata Cicenddo, Bandung)

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.