Manajemen pada Keratitis Disciformis ec Herpes Simplex Virus dengan Mixed Infection Bakteri PDF Cetak E-mail

Virus Herpes Simplex (HSV) adalah virus DNA yang memiliki kemampuan latensi pada ganglia saraf sensoris yang dapat menimbulkan reaktivasi dan menyebabkan penyakit kronis yang rekuren. Infeksi keratitis herpes simplex adalah kondisi klinis pada kornea manusia yang disebabkan oleh virus herpes simplex. Bentuk infeksi pada keratitis herpes simplex dapat berupa infeksi primer, namun lebih banyak dijumpai pada bentuk infeksi rekuren. Seluruh bagian kornea manusia dapat diserang pada penyakit keratitis herpes simplex. Keratitis stromal herpes terbagi menjadi dua jenis yaitu nonnecrotizing (interstitial atau disciformis) dan necrotizing. Etiopatogenesis pada keratitis disiformis (endotelitis) masih kontroversial, keadaan disebabkan aktivasi infeksi HSV pada keratosit dan endothelium atau dapat juga suatu reaksi terhadap antigen virus pada kornea. Manifestasi klinis yang timbul dapat berupa keratitis epithelial, keratopati neurotropik, keratitis stromal, dan endotelitis.

Keratitis HSV merupakan penyebab tersering kebutaan pada kornea di Amerika. Keadaan ini diakibatkan oleh infeksi HSV yang sering berulang sehingga berhubungan dengan morbiditas pasien. Keratitis stromal herpes terbagi menjadi dua jenis yaitu nonnecrotizing (interstitial atau disciform) dan necrotizing. Etiopatogenesis pada keratitis disiformis (endotheliitis) masih kontroversial, keadaan ini dipercaya akibat dari aktifasi infeksi HSV pada keratosit dan endothelium atau dapat juga akibat reaksi terhadap antigen virus pada kornea. Pada kasus Keratitis Disciformis, pasien mengalami penglihatan pandangan kabur secara bertahap, rasa tidak nyaman dan kemerahan pada mata. Manifestasi klinis ini adalah proses infiltrasi pada stroma dan endotel kornea yang disebabkan oleh infeksi HSV yang berulang.

Terdapat edema stroma pada zona sentral disertai dengan edema pada epithelial yang berdistribusi oval/bulat. Lesi pada stroma memberntuk gambaran eksentrik. Keratic precipitates juga dijumpai pada endotel kornea. Pada kasus yang berat dapat terjadi lipatan pada membrane descement. Pada beberapa kasus dijumpai adanya infiltrat marginal atau lebih dikenal sebagai Wessely ring yang diduga sebagai infiltrat polimorfonuklear yang disertai reaksi antigen antibodi virus herpes simpleks.

Berdasarkan pedoman terapi yang telah disepakati oleh American Academy of Ophthalmology, tujuan terapi dari keratitis HSV adalah didapatkan hasil pada pasien yaitu resolusi dari infeksi dan inflamasi kornea, menurunnya derajat nyeri, berkurangnya sikatrik dan neovaskularisasi kornea, mencegah perforasi kornea, serta mengoptimalkan fungsi visual. Dalam penatalaksanaan kasus keratitis disiformis perlu dilakukannya monitoring ketat dan pengobatan yang adekuat berdasarkan tingkat keparahan. Hal tersebut berguna untuk meminimalisir pembentukan jaringan parut pada mata setelah proses penyembuhan.

Keratitis stromal herpes terbagi menjadi dua jenis yaitu nonnecrotizing (interstitial atau disciform) dan necrotizing. Etiopatogenesis pada keratitis disiformis (endothelitis) adalah aktifasi infeksi HSV pada keratosit dan endothelium atau dapat juga suatu reaksi terhadap antigen virus pada kornea. Manifestasi klinis yang timbul dapat berupa keratitis epithelial, keratopati neurotropik, keratitis stromal, dan endotelitis. Penatalaksanaan yang tepat akan memberikan hasil yang baik serta prognosis yang baik bagi kualitas penglihatan

DAFTAR PUSTAKA

1. Bowling B. Kanski's Clinical Ophthalmology E-Book: A Systematic Approach: Elsevier Health Sciences; 2015.

2. American Academy of Ophthalmology. External Disease and Cornea. United States of America: American Academy of Opthalmology; 2016-2017. 22,89-97 p.

3. Nema H, Nema N. Recent Advances in Ophthalmology - 13: Jaypee Brothers,Medical Publishers Pvt. Limited; 2017.

4. Anna M. Stagner FAJ, Ralph C. Eagle and Norman C. Charles. Herpetic Keratitis. Diagnostic Pathology of Infectious Disease. USA: Elsevier, Inc;2018.

5. Wihelmus KR. Herpes simplex keratitis: challenges in diagnosis and clinical management. American Academy of Opthalmology 2016:20.

6. Altan-Yaycioglu R, Poyraz S. Bilateral disciform keratitis of presumed adenoviral etiology. Indian journal of ophthalmology. 2018;66(1):132.

7. Kalezic T, Mazen M, Kuklinski E, Asbell P. Herpetic eye disease study: lessons learned. Current opinion in ophthalmology. 2018 Jul;29(4):340-6.

8. Azher TN, Yin XT, Tajfirouz D, Huang AJ, Stuart PM. Herpes simplex keratitis: challenges in diagnosis and clinical management. Clin Ophthalmol. 2017;11:185-91.

9. Rowe AM, St Leger AJ, Jeon S, Dhaliwal DK, Knickelbein JE, Hendricks RL. Herpes keratitis. Progress in retinal and eye research. 2013 Jan;32:88-101.

10. K. P, Kaiser, Friedman NJ. Infectious Keratitis (Corneal Ulcer). Massachusetts Eye and Ear Infirmary Illustrated Manual of Ophthalmology. Fourth ed. USA: Elsevier INc; 2014. p. 173-232.

11. Azher TN, Yin X-T, Tajfirouz D, Huang AJW, Stuart PM. Herpes simplex keratitis: challenges in diagnosis and clinical management. Clinical Ophthalmology (Auckland, NZ). 2017 01/19;11:185-91.

12. Bhatt UK, Abdul Karim MN, Prydal JI, Maharajan SV, Fares U. Oral antivirals for preventing recurrent herpes simplex keratitis in people with corneal grafts. The Cochrane database of systematic reviews. 2016 Nov 30;11:Cd007824.

13. Asi F, Milioti G, Seitz B. Descemet membrane endothelial keratoplasty for corneal decompensation caused by herpes simplex virus endotheliitis. Journal of Cataract & Refractive Surgery. 2018 2018/01/01/;44(1):106-8.

14. Versura P, Giannaccare G, Pellegrini M, Sebastiani S, Campos EC. Neurotrophic keratitis: current challenges and future prospects. Eye and brain. 2018;10:37-45.

 

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.