Penatalaksanaan Oftalmia Neonatorum et causa Infeksi Gonokokal dengan Ikterus Neonatorum PDF Cetak E-mail

Oftalmia neonatorum merupakan penyakit konjungtivitis yang terjadi pada bulan pertama kehidupan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun bahan kimia. Chlamydia trachomatis merupakan bakteri yang menjadi penyebab utama oftalmia neonatorum, namun Neisseria gonorrhoeae merupakan bakteri yang lebih berisiko menimbulkan komplikasi serius. Saat ini pemberian antibiotik profilaksis sudah menjadi standar perawatan perinatal, namun pada daerah yang belum terjangkau dengan fasilitas kesehatan, oftalmia neonatorum masih menjadi penyebab utama infeksi okular yang dapat berujung pada kebutaan.

Oftalmia neonatorum atau yang dikenal juga konjungtivitis neonatorum merupakan penyakit mata yang paling sering terjadi pada neonatus dengan insidensi berkisar 1,6 persen hingga 12 persen. Prevalensi oftalmia neonatorum pada negara maju dengan perawatan prenatal dan perinatal yang baik berkisar 0,1 persen sementara pada daerah Afrika Timur berkisar 10 persen. Pada pasien dengan ibu yang terinfeksi gonorrhea, anak memiliki risiko terinfeksi gonorrhoea sebesar 30-50 persen. Pada pasien dengan riwayat ibu yang terinfeksi klamidia risiko anak untuk terinfeksi mencapai 50 persen.

Konjungtivitis infeksi pada anak umumnya muncul dengan gejala klinis berupa rasa terbakar, rasa mengganjal oleh benda asing, dan adanya sekret konjungtiva. Karakteristik dari sekret tersebut dapat menjadi arahan bagi klinisi dalam mendiagnosis pasien. Sekret yang purulen mengindikasikan respon polimorfonuklear terhadap infeksi bakteri, sekret mukopurulen mengarah kepada infeksi virus ataupun klamidia, dan sekret serosa lebih mengarah kepada reaksi alergi ataupun virus. Organisme patogen umumnya menginfeksi melalui kontak langsung dengan jalan lahir selama proses persalinan per vaginam. Infeksi juga dapat menyebar naik ke uterus, terutama bila terdapat ruptur membran sehingga tidak menutup kemungkinan bayi dengan persalinan secara seksio sesaria juga dapat terinfeksi. Bakteri yang dapat menjadi patogen diantaranya Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrheae, Hemophilus spp, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis, Escheria coli, Streptococcus pneumoniae, bakteri gram negatif lain, dan Herpes simplex virus.

Oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae umumnya muncul pada 3-4 hari pertama kehidupan. Gejala klinis yang dapat muncul diantaranya edema pada palpebra, konjungtiva yang hiperemis, dan secret konjungtiva yang purulen. Pada kasus yang berat, dapat dijumpai adanya kemosis, sekret yang masif, dan dapat berpotensi terjadi ulkus kornea yang berat hingga terjadi perforasi kornea.

Diagnosis oftalmia neonatorum akibat Neisseria gonorrhoeae ditegakkan berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan mikrobiologis dengan menggunakan pewarnaan Gram dan pemeriksaan kultur. Pemeriksaan Gram menunjukkan gambaran gram negatif diplokokus intrasel dengan dominasi sel neutrofil. Gambaran ini juga dapat ditemukan pada bakteri Moraxella catarrhalis dan Neisseria meningitidis. Diagnosis definitif ditegakkan melalui pemeriksaan kultur sekret konjungtiva pada media agar cokelat atau media Thayer-Martin yang diinkubasi pada suhu 370 C dalam karbon dioksida yang terhumidifikasi. Pemeriksaan kultur juga sangat membantu pada kasus-kasus konjungtivitis lain yang berat, kronik, ataupun berulang dan tidak respon terhadap pengobatan. Pada bayi yang mengalami demam atau perilaku abnormal dapat dipertimbangkan pemeriksaan darah dan cairan serebrospinal. Kasus konjungtivitis yang dicurigai akibat infeksi klamidia dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium imunologis PCR (Polymerase Chain Reaction) seperti tes antibodi imunofluoresen dan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay).

Penegakan diagnosis oftalmia neonatorum harus dilakukan segera dengan pemberian manajemen yang tepat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, gambaran klinis, dan pemeriksaan mikrobiologis. Oftalmia neonatorum merupakan penyebab kebutaan yang dapat dicegah pada anak dengan kerjasama semua pihak terkait.

Daftar Pustaka

1. Cantor LB, editor. Pediatric ophthalmology and strabismus. Dalam: Basic and clinical science course. Edisi 2016–2017. San Fransisco: American academy of ophthalmology; 2016. Hlmn. 228–30.

2. Fredrick DR. Conjunctivitis in the neonatal period (ophthalmia neonatorum). Dalam: Principles and practice of pediatric infectious diseases. Edisi ke-5. USA: Elsevier; 2018. Hlmn. 497–500.

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2015.

4. Palafox SK, Jasper S. Ophthalmia Neonatorum. J Clin Exp Ophthalmol. 2011;2:Hlmn 119.

5. Hammerschlag MR. Chlamydial and gonococcal infections in infants and children. Oxf Univ Press. 2011;3:Hlmn 99–102.

6. Garratt S, editor. Preffered practice pattern conjunctivitis. San Fransisco: American academy of ophthalmology; 2013.

7. Wagner RS. Conjunctival diseases. Dalam: Harley’s Pediatric Ophthalmology. Edisi ke-6. Philadelphia: Lippincott; 2014. Hlmn 175–6.

8. Moolenaar RL. Sexually transmitted diseases treatment guidelines. Atlanta: Centers for disease control and prevention; 2010.

9. Meyer D. Ophthalmia Neonatorum Prophylaxis and the 21st Century Antimicrobial Resistance Challenge. Nomor 3 July - Sept - 2014. 2014;Hlmn 21.

10. Darville T. Neisseria gonorrhoeae (Gonococcus). Dalam: Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia: Elsevier; 2016. Hlmn. 1365–9.

11. Zloto O, Gharaibeh A. Ophthalmia neonatorum treatment and prophylaxis: IPOSC global study. Springer-Verl Berl Heidelb. 2016.

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.