SISTEM OPTIK MATA DENGAN KONSEP OPTIK GEOMETRI PDF Cetak E-mail

Manusia dapat mengetahui apa yang terjadi pada lingkungan sekitar dengan cara menginterpretasikan informasi penglihatan dengan tepat. Hal ini bergantung pada kemampuan mata memfokuskan cahaya ke retina. Proses tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dan kelainan pada mata. Konsep optik geometri dapat membantu dalam memahami proses tersebut.

Optik geometri penting untuk memahami sistem optik mata. Kelainan refraksi dan koreksinya juga dapat dipahami dengan konsep optik geometri sehingga keberhasilan pemakaian alat-alat bantu optik seperti kacamata, lensa kontak, lensa intraokular, dan alat bantu untuk low vision dapat diketahui.

Optik adalah cabang fisika yang berhubungan dengan sifat-sifat cahaya. Optik geometri adalah studi cahaya dan bayangan yang dibentuk dengan menggunakan prinsip-prinsip geometri. Optik geometri berhubungan dengan efek cahaya sewaktu melewati media atau instrumen optik yang berbeda. Berbagai jalur perjalanan cahaya dari sebuah objek akan melalui sistem optik dan akhirnya terjadi pembentukan bayangan.

Pengertian cahaya menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Leucippus dan Democritus membuat teori korpuskular yaitu cahaya merupakan aliran partikel yang sangat kecil dan merambat lurus dengan kecepatan tinggi. Cahaya berdasarkan teori korpuskular akan tetap merambat lurus jika melewati celah, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah cahaya akan menyebar. Fenomena ini dinamakan difraksi. Efek difraksi tersebut membuat ilmuwan Young yakin untuk meninggalkan teori korpuskular. Young menyimpulkan bahwa cahaya pada dasarnya adalah fenomena gelombang. Maxwell mengembangkan teori Young mengenai fenomena gelombang dan menyatakan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik.

Spektrum elektromagnetik adalah sususan bentuk gelombang elektromagnetik berdasarkan panjang gelombang. Keseluruhan spektrum elektromagnetik berkisar dari sinar kosmik dengan panjang gelombang yang lebih pendek hingga gelombang radio dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang memiliki energi yang lebih rendah sedangkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek memiliki lebih banyak energi. Sinar cahaya yang dapat dilihat berada di antara sinar ultraviolet dan sinar inframerah, yaitu berkisar 400 nm hingga 700 nm. Cahaya akan berinteraksi dengan retina dan memberikan sensasi penglihatan.

Berkas sinar yang berasal dari sumber cahaya jika dipotong dengan menempatkan sebuah celah, maka sinar yang melewati lubang tersebut dinamakan pencil of light rays. Sinar yang lewat mendekati tepi celah disebut limiting ray, sedangkan yang melewati tengah celah disebut chief ray. Pencil of rays dapat berbentuk divergen, paralel, atau konvergen. Gelombang cahaya secara alami akan menyebar atau divergen dari sumbernya tetapi dapat menjadi konvergen jika diarahkan dengan menggunakan lensa cembung.

Optik geometri merupakan studi cahaya dan bayangan yang dibentuk dengan menggunakan prinsip-prinsip geometri. Cahaya melalui sistem optik dan akan terjadi pembentukan bayangan. Pembiasan merupakan jalur yang ideal untuk mendemonstrasikan prinsip optik geometri. Pengetahuan tentang optik geometri sangat penting untuk memahami sistem optik mata karena dengan cara yang sama media okular akan menghasilkan bayangan pada retina dan memberikan sensasi penglihatan.

Daftar Pustaka

1. Schwartz SH. Basic Terms and Concepts. Geometrical and Visual Optics. Edisi ke-2. New York: Mc-Graw Hill; 2013. Hlm. 1-27

2. Riordan-Eva P. Optics and Refraction. Dalam: Whitcher JP, Riordan-Eva P, editor. Vaughan and Asbury’s General Ophthalmology. Edisi ke-17. United States: Mc-Graw Hill; 2014. Hlm. 382–98

3. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. Edisi ke-6. New Delhi: The Health Sciences; 2015. Hlm. 24-33

4. Ghai AK. Light. Refraction, Dispensing Optics and Ophthalmic Procedures. Edisi ke-1. New Delhi: Jaypee Highlights; 2013. Hlm. 1-12

5. American Academy of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course: Clinical Optics. San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2016. Hlm. 3-76

6. Katz M, Kruger PB, Thall EH. Refraction and Clinical Optics. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, editor. Duane's Ophthalmology. Volume 1. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins; 2012. Hlm. 364-484

7. Lens A. Optics. Dalam: Ledford J, Daniels K, Campbell R, editor. Optics, Retinoscopy and Refractometry. Edisi ke-2. New Jersey: SLACK Incorporated; 2006. Hlm. 1-28

8. Wilkinson ME. Light. Dalam: Doan AP, editor. Essential Optics Review for the Boards. United States: F.E.P International; 2006. Hlm. 1-27

9. Elkington AR, Frank HJ, Greaney M. Clinical optics. Oxford: Blackwell Science; 1999. Hlm. 25-111

10. Gross H, Blechinger F, Achtner B. Human Eye. Dalam: Gross H, editor. Handbook of Optical Systems, Volume 4, Survey of Optical Instruments. Weinheim: WileyVCH; 2008. Hlm. 1–88

11. Atchison DA, Smith G. Optic of the Human Eye. Missouri: Elsevier; 2002. Hlm. 1-10

12. Stein HA, Stein RM, Freeman MI. The Ophtalmic Assistant. Missouri: Elsevier; 2013. Hlm. 29-47

13. Kaschke M, Donnerhacke K-H, Rill MS. Optics of the Human Eye. Dalam: Optical Devices in Ophthalmology and Optometry. Weinhem: Wiley-VCH; 2014. Hlm. 15– 48

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.nike huarache pas cher air jordan femme Scarpe Air Jordan air jordan femme jordan scarpe scarpe jordan cheap air max uk