CEGAH KEBUTAAN AKIBAT GLAUKOMA PDF Cetak E-mail

Dalam rangkaian World Glaucoma Week Tahun 2017 ini PMN RS Mata Cicendo melakukan Kegiatan Siang Klinik bagi para pasien dan pengunjung oleh dr. Maula Rifada, SpM, juga Talkshow di Radio K-Lite FM bersama Dr. dr. Andika Prahasta G, SpM(K), M.Kes pada Jum’at 10 Maret 2017 dan Talkshow di Radio Rase FM bersama Dr.dr Elsa Gustianty, SpM(K),M.Kes pada Selasa 14 Maret 2017.   Lalu dilanjutkan Talkshow Radio Sonora dan Raka FM pada 17 Maret 2017 , Seminar Glaukoma di Universitas Ganesha Bandung, dan 1 April 2017 di FK Unpad Jl. Eijkman Bandung.

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak secara global. Kebutaan yang terjadi akibat glaukoma merupakan kebutaan yang ireversibel (permanen) sehingga menjadi tantangan yang besar bagi kesehatan masyarakat.

Mengapa diadakan World Glaucoma Week setiap tahunnya?

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa terdapat 285 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, 39 juta diantaranya mengalami kebutaan. Glaukoma menyebabkan gangguan penglihatan sebanyak 2% dan kebutaan sebanyak 8%. Pada tahun 2020 diperkirakan penderita glaukoma di seluruh dunia akan meningkat sebanyak 76 juta dengan proporsi terbanyak terdapat di wilayah Asia dan Afrika. Besarnya masalah kesehatan mata akibat glaukoma membuat World Glaucoma Association (asosiasi glaukoma dunia) dan World Glaucoma Patients Association (asosiasi pasien-pasien glaukoma dunia) menginisiasi World Glaucoma Week (WGW) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 – 18 Maret 2017. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat mengenai penyakit glaukoma, dampak pada penglihatan, dan dapat mengenai siapa saja. Masalah glaukoma ini tidak hanya menjadi perha_an bagi dokter mata dan tenaga kesehatan lainnya saja, tetapi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mencegah kebutaan akibat glaukoma dengan melakukan pemeriksaan mata secara regular.

 

Apa itu glaukoma?

Glaukoma merupakan penyakit yang mengenai/merusak saraf mata pusat, bersifat progresif (berjalan lambat) dan disertai kerusakan/penyempitan lapang pandang. Kebanyakan penderita glaukoma perjalanan penyakitnya berjalan lambat sehingga pada tahap awal jarang disadari oleh penderitanya.

Pada tahap lanjut setelah terjadi kerusakan saraf mata yang lebih besar, penglihatan semakin menurun,biasanya penderita baru datang untuk berobat. Sulitnya kerusakan saraf mata akibat glaucoma bersifat permanen, sehingga bila penderita sudah sampai pada tahap kebutaan, kebutaan tersebut akan menetap. Melihat perjalan penyakit tersebut, glaukoma tipe ini sering disebut juga sebagai 'pencuri penglihatan'. Tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama pada glaukoma. Tekanan bola mata normal berkisar 10-20 mmHg. Pada penderita glaukoma, tekanan bola mata meningkat di atas 21 mmHg, walaupun terdapat penderita yang terkena glaukoma pada tenakan bola mata yang normal.

 

Faktor risiko lainnya adalah usia dimana usia diatas 40 tahun memiliki risiko yang lebih besar terkena glaukoma. Riwayat keluarga dengan glaukoma juga merupakan faktor risiko perlu diperha_kan. Keturunan pertama pada keluarga yang orang tuanya menderita glaukoma memiliki risiko yang lebih besar terkena glaukoma dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma. Penderita dengan minus tinggi (berkacamata tebal) juga merupakan faktor risiko glaukoma.

Apa saja jenis-jenis glaukoma?

Glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma primer dan sekunder. Glaukoma primer terjadi tanpa disertai dengan penyebab/penyakit yang lain, sedangkan glaukoma sekunder memiliki penyebab/penyakit lain yang mendasarinya, seperti akibat peradangan pada mata, trauma pada mata, setelah operasi mata, atau akibat efek samping obat (golongan kortikosteroid). Secara struktur, glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Glaukoma sudut terbuka perjalanan penyakitnya bersifat lambat dan tanpa gejala hingga tahap lanjut dimana gangguan lapang pandang dan gangguan penglihatan sudah terjadi dan penderita baru menyadarinya.

Glaukoma tipe ini yang sering disebut sebagai 'pencuri penglihatan'. Glaukoma sudut tertutup dapat berjalan seperti glaukoma sudut terbuka tetapi juga dapat terjadi serangan akut. Serangan akut ditandai dengan nyeri daerah mata secara mendadak disertai dengan nyeri kepala kadang mual dan muntah, penglihatan mendadak buram, mata merah, tekanan bola mata sangat tinggi.

Dari segi usia, glaukoma dapat terjadi pada bayi dari bayi baru lahir (glaucoma kongenital), usia muda (glaukoma juvenile), dan glaukoma yang terjadi pada usia di atas 40 tahun. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan dalam arti mengembalikan yang rusak menjadi baik pada penyakit glaukoma.

Pengobatan yang dilakukan pada glaukoma tujuannya adalah mempertahankan penglihatan yang ada saat ditemukan. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan menurunkan/mengontrol tekanan bola mata sampai pada batas normal atau sesuai target yang diharapkan. Dengan terkontrolnya tekanan bola mata, diharapkan kerusakan saraf mata pusat yang terjadi akan jauh melambat sehingga

penglihatan yang ada dapat dipertahankan.

Bagaimana pengobatan glaukoma?

Bila dengan obat-obatan tekanan bola mata masih belum terkontrol, dapat dilakukan tindakan laser atau operasi. Tujuan tindakan laser atau operasi ini tetap untuk mengontrol tekanan bola mata.

Bagaimana pencegahan glaukoma?

Pencegahan untuk mencegah timbulnya glaukoma memang hingga saat ini tidak ada tetapi kita akan mencegah jangan sampai terjadi kebutaan akibat glaukoma.

Deteksi dini menjadi sangat pen_ng pada kasus glaukoma ini. Semakin cepat kasus glaukoma ditemukan semakin cepat kita dapat memberikan pengobatan sehingga kerusakan yang terjadi ditahap awal dapat dipertahankan tidak meluas dan penglihatan dapat tetap terjaga. Memeriksakan mata secara rutin terutama bagi yang berusia 40 tahun lebih sangat disarankan. Riwayat keluarga dengan glaukoma, anggota keluarganya juga disarankan untuk memeriksakan mata secara rutin

Mari kita bersama-sama mencegah kebutaan akibat glaukoma !!!

Referensi

1. World Health Organiza_on. Global data on visual impairments 2010

2. Quigley et al. Br J Ophthalmol. 2006; 90: 262-67

3. Tham et.al. Ophthalmology. 2014; 121: 2081-90

4. Cioffi GA, Durcan FJ, Girkin CA, Gross RL, Netland PA, Samples JR, et al., eds. Glaucoma. San Francisco: American Academy of Ophthalmology 2011-2012

 

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.