Login Form



Follow Us

Poling

Bagaimana Menurut Anda Pelayanan Rawat Jalan Paviliun di RS Mata Cicendo?
 

Who's Online

 Tamu : 6 
Home
Cicendo Eye Hospital
ToT Perlindungan Anak dan Perempuan PDF Cetak E-mail

Dalam keluarga idealnya merupakan kehidupan yang dipenuhi dengan kehangatan, kasih sayang, dan sikap saling menghormati. Tetapi kenyataan saat ini memperlihatkan bahwa berbagai macam bentuk kekerasan di lingkungan ini sering terjadi baik kekerasan fisik, seksual, maupun emosional. Hal ini sering terjadi dan anggota yang menjadi korban kebanyakannya adalah perempuan dan anak- anak. Tindakan kekerasan ini tidak hanya kejadian tunggal, akan tetapi kadang terulang, terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, tidak jarang perempuan dan anak – anak yang menjadi korban tindak kekerasan ini mengalami gangguan yang serius dan harus menjalani pengobatan dan perawatan dirumah sakit. Meskipun demikian, tindak kekerasan jenis ini adalah kekerasan yang sulit diungkap, dengan alasan diantaranya banyak pihak yang menganggap hal ini lumrah terjadi, dianggap sebagai masalah internal keluarga yang harus ditutupi, juga sering korban dan pelaku menutupi kejadian dengan alasan yang berbeda.

Rumah Sakit sebagai institusi yang dijadikan rujukan atau tempat untuk menangani gangguan kesehatan dari korban tindak kekerasan ini dapat lebih berperan dalam usaha diagnosis, kuratif atau bahkan rehabilitatif. Sehingga dalam suatu rumah sakit dibutuhkan tim yang dapat mengidentifikasi pasien perempuan dan anak – anak yang menjadi korban tindak kekerasan ini.

Berdasarkan hal tersebut, Tim Perlindungan Anak dan Perempuan (TPAP) di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung mengadakan Training Of Trainer (ToT) yang berlangsung selama 2 hari pada tanggal 5-6 Agustus 2016 bertempat di Gedung B Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

 

Dalam sambutannya Direktur Medik dan Keperawatan Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo Dr. dr. Feti Karfiati, SpM(K), MKes berharap kegiatan TOT Perlindungan Anak dan Perempuan ini dapat memberikan pemahaman kepada peserta mengenai hak anak dan perempuan serta kebijakan mengenai perlindungan anak dan perempuan sehingga peserta dapat menyusun Standar Operasional Prosedur penanganan korban tindak kekerasan, khususnya bagi pasien Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

 
Akhiri Kekerasan Terhadap Anak PDF Cetak E-mail

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2016, Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo mengadakan acara Siang Klinik dengan narasumber Direktur Medik dan Keperawatan PMN RS Mata Cicendo Dr. dr. Feti Karfiati S, SpM(K), MKes, dan Ketua Tim Perlindungan Anak dan Perempuan Rumah Sakit Mata Cicendo dr. Anne Susanty, SpA.

Dalam kegiatan tersebut diterangkan pentingnya melindungi mata khususnya mata anak, sebab gangguan penglihatan di masa anak-anak akan berpengaruh hingga seumur hidupnya. Begitu berharganya bagi kehidupan, sehingga penting sekali bagi orang tua untuk selalu menjaga dan melindungi mata anak agar daya penglihatannya tetap baik. Dalam acara tersebut juga dijelaskan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menghilangkan kekerasan kepada anak-anak sesuai dengan tema Hari Anak Nasional tahun 2016 " Akhiri kekerasan terhadap anak ".

 
LASIK, Kacamata Tak Perlu Lagi

MESKI kelihatannya keren, menggunakan kacamata juga lensa kontak kerapkali membuat kita tidak nyaman dan bebas. Kacamata bahkan bisa jadi memperburuk penampilan kita.Sekarang, Anda tak perlu khawatir dengan persoalan ini.

LASIK atau laser in-situ keratomileusis, merupakan jenis prosedur bedah yang menjadi sebuah fenomena jaman ini, karena dapat memperbaiki mata bermasalah seperti rabuh jauh, rabun dekat serta kelainan mata lainnya dalam waktu singkat. Tak heran bila prosedur ini makin diminati karena aman, efektif, cepat sembuh dan rendahnya tingkat kerisihan.

Artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai LASIK dan apa saja prinsip dasarnya. Tentunya agar masyarakat tidak lagi ragu dan mengetahui dengan benar apa itu LASIK dan seperti apa prosedurnya.

Apakah LASIK itu?
LASIK muncul dari pengembangan berbagai teknik bedah refraktif. Intinya, ada 2 tahap proses LASIK. Pertama, membuat bukaan kecil tipis pada kornea dan yang kedua adalah tahap merancang ulang kornea dengan membuang sebuah jaringan di kornea menggunakan laser. Bukaan kornea kemudian ditutup kembali dan direkatkan hingga proses penyembuhan selesai.

Pengerjaan dasar dari menciptakan bukaan LASIK pada kornea diawali pada tahun 1950-an, ketika ditemukannya microkeratome, sebuah pisau metal mekanikal yang digunakan untuk membuka kornea. Selama bertahun-tahun, microkeratome terus disempurnakan hingga kini, proses pembukaan kornea menjadi aman dan nyaman.

Penemuan teknologi kedua untuk LASIK muncul pada tahun 1980 dimana ditemukan laser ultraviolet yang dapat menggores suatu jaringan secara tepat tanpa merusak jaringan lain di sekitarnya. Dua tahun kemudian, potensi dan fungsi dari laser ini dalam bidang bedah diumumkan.

Bagaimana Cara Kerja LASIK?
Kornea memegang peranan penting dalam LASIK karena kornea memegang hampir seluruhnya kekuatan pembiasan pada mata, dimana sumber kekuatan mata yang lain datang dari lensa kristal jernih mata yang alami. Oleh karena itu, memodifikasi bentuk kornea juga berarti merubah status pembiasan pada mata. Inilah prinsip dasar dibalik operasi LASIK serta pembedahan refratif lain pada kornea.

Untuk mengobati rabun jauh (myopia), bagian tengah kornea digepengkan untuk mengurangi kemampuan pembiasan kornea. Untuk mengobati rabun dekat (hyperopia), bagian kornea dipertajam untuk meningkatkan kemampuan pembiasannya. Untuk mengobati kelainan mata seperti pandangan yang tidak jelas (astigmatism), lekukan kornea yang berjarak 90 derajat dari porosnya dibuat sama dan seimbang.

 
Hari Anak Indonesia PDF Cetak E-mail
Selain Hari Ayah dan juga Hari Ibu, Indonesia dan juga dunia memiliki hari besar dan penting yang disebut Hari Anak, tujuan ditetapkannya peringatan ini untuk menghargai hak hak kepada anak seluruh dunia, mengingat banyak sekali kasus-kasus kekerasan dan pelecehan yang selama ini terjadi pada anak-anak termasuk di negara kita Indonesia. Kasus-kasus mengerikan ini terus meningkat dalam setiap tahunnya, dan menjadi momok yang menakutkan bagi adik-adik serta anak kita. Untuk itu pada tahun ini Hari Anak Indonesia bertemakan “Akhiri Kekerasan pada Anak”.

 

Anak merupakan aset penting bagi sebuah bangsa, sehingga pendidikan dan pengasuhan yang diberikan harus mampu meningkatkan kualitas anak dimasa mendatang. Pendidikan harus dinomorsatukan, akan tetapi pola pendidikan yang diberikan harus mengarah pada potensi yang kita punyai. Artinya, bagaimana membangun nilai-nilai kerja keras, optimisme pada anak, bagaimana membangun karakter yang siap tahan banting serta berani bersaing. Selain pendidikan di bangku sekolah, aspek kesehatan sang anak juga sangat penting untuk menunjang semua hal itu.

Berikut adalah ciri-ciri anak sehat, tidak hanya dilihat dari segi fisik, namun segi psikis dan segi sosialisasi. Menurut Departemen Kesehatan RI ciri anak sehat ada 9, yaitu:

* Ciri anak sehat, ia akan tumbuh dengan baik,  yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional.

* Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.

* Tampak aktif atau gesit dan gembira.

* Mata bersih dan bersinar.

* Anak sehat nafsu makannya baik.

* Bibir dan lidah tampak segar.

* Pernapasan tidak berbau.

* Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering.

* Ciri anak sehat lainnya, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Secara sederhana, ciri anak sehat dilihat dari segi fisik, psikis dan sosialisasi adalah:

* Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehatnya badan dan pertumbuhan jasmani yang normal.

* Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya berkembang secara wajar, pikiran bertambah cerdas, perasaan  bertambah peka, kemauan bersosialisasi baik.

* Dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit, dan gembira serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

(sumber : http://promkes.depkes.go.id/2016/07/24/4872/)
 
MASYARAKAT BISA TELPON 119 UNTUK KASUS GAWAT DARURAT MEDIK PDF Cetak E-mail

Dari data Health Sector Review tahun 2014, diketahui bahwa beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran pola penyakit dimana 3 peringkat penyakit tertinggi yang menjadi beban di Indonesia yaitu penyakit cerebrovascular (peringkat pertama), kecelakaan Lalu Lintas (peringkat kedua) dan penyakit jantung iskemik (peringkat ketiga).

Dengan meningkatnya kasus kegawatdaruratan penyakit-penyakit tersebut di atas, mendorong Kementerian Kesehatan untuk melakukan terobosan baru guna meningkatkan layanan kegawatdaruratan, yaitu melalui layanan 119 yang digunakan diseluruh wilayah Indonesia.

Layanan kegawatdaruratan medis melalui nomor 119 dapat diakses secara luas dan gratis oleh masyarakat melalui telepon seluler maupun rumah. Layanan kegawatdaruratan ini merupakan integrasi antara Pemerintah Pusat melalui Pusat Komando Nasional 119 yang berlokasi di Kementerian Kesehatan dengan Pemerintah Daerah melalui Public Safety Center (PSC) yang ada di tiap Kabupaten/Kota. Sesuai Instruksi Presiden nomor 4 tahun 2013, mengamanahkan setiap kabupaten/kota harus membentuk 1 (satu) PSC yang berfungsi sebagai pusat koordinasi layanan kegawatdaruratan di suatu daerah. Untuk itu, secara bertahap layanan ini akan terus dikembangkan sampai semua daerah otonom (kabupaten/kota) memiliki PSC.

Pusat Komando Nasional 119 atau National Command Center 119 berfungsi sebagai pusat komando nasional untuk layanan kegawatdaruratan. NCC 119 akan menggabungkan dan mengkoordinasikan PSC-PSC yang ada di daerah. Pelayanan medik yang diberikan oleh PSC 119 antara lain: panduan tindakan awal melalui algoritma gawat darurat, mengirim bantuan petugas dan ambulan, mengirim pasien ke faskes terdekat.

"Saat ini dari 539 kabupaten/kota baru ada 27 PSC 119 yang tergabung dengan NCC 119, antara lain: Aceh, Medan, Kabupaten Bangka, Kota Bandung, Kota Yogyakarta, Kota Solo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Tulung Agung, Kota Mataram, DKI Jakarta, Kabupaten Bangtaeng, Manado, Kabupaten Tangerang, Kota Palembang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Makasar, RSUP Kandau Manado, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Sragen, Kabupaten Kendal, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Tuban, Kabupaten Trenggalek, Kota Denpasar, BPBD Provinsi Bali dan Kabupaten Badung Bali", ungkap Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) saat acara Peluncuran 119 Integrasi Gawat Darurat Medik di Indonesia (1/7).

Menkes mengingatkan bagi daerah yang belum memiliki PSC tentunya akan kesulitan untuk mendapatkan layanan kegawatdaruratan ini, karena penanganan kegawatdaruratan tergantung pada PSC.

Tentunya awal peluncuran layanan 119 ini akan mengalami kendala, seperti saat ini baru disediakan 10 operator yang melayani seluruh masyarakat Indonesia sehingga kemungkinan adanya panggilan yang menunggu atau tidak terjawab. Selain itu, PSC yang terkoneksi dengan NCC saat ini baru 27 PSC artinya terdapat kendala koneksi dari NCC ke PSC yang kurang baik dan cepat, sehingga memungkinkan adanya gangguan dalam mentransfer panggilan dari NCC ke PSC. Untuk PSC memiliki kendala, yaitu jumlah SDM dari tenaga operator maupun tenaga kesehatan yang terbatas, ditambah dengan minimnya jumlah ambulans yang dimiliki, sehingga memungkinkan lambannya respon layanan kegawatdaruratan/ambulans. Seiring berjalannya waktu, layanan 119 akan terus mengalami perbaikan dan evaluasi, sehingga nantinya layanan ini menjadi pilihan utama untuk pertolongan gawat darurat.

*Berita ini disiarkan oleh Bagian Hukormas, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-5277734
atau alamat e-mail:
humas.yankes@gmail.com 
(sumber : http://yankes.kemkes.go.id/read-masyarakat-bisa-telpon-119-untuk-kasus-gawat-darurat-medik-761.html)

 
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

Halaman 1 dari 12


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.